IMAN YANG RENDAH HATI

Matius 15:10-20, 21-28


Nancy Snow, seorang profesor komunikasi dari Amerika Serikat, memaknai sikap rendah hati sebagai kesadaran diri untuk mengakui dan menerima keterbatasan, kelemahan, serta kekurangan diri. Sikap ini juga menolong seseorang membatasi keinginan berlebihan untuk merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Dalam kehidupan iman, disadari atau tidak, kita sering merasa lebih baik daripada penganut agama lain. Di dalam Kristus, kita meyakini memiliki hak istimewa atas kasih karunia Allah, baik di bumi maupun di surga kelak. Sampai di titik ini, tidak ada yang keliru. Namun, sikap tersebut menjadi berlebihan apabila kita mulai memandang sebelah mata mereka yang berbeda iman. Jika demikian, apa bedanya kita dengan orang-orang Yahudi yang merasa diri lebih unggul dari orang lain? Kisah perempuan Kanaan yang memohon belas kasihan kepada Yesus agar menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan seolah menampar siapa saja yang memiliki sikap tinggi hati. Perempuan ini adalah orang asing bagi kelompok Yahudi. Kehadirannya dipandang sebagai gangguan oleh para murid. Bahkan, Yesus berkata, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Seandainya Saudara berada di posisi perempuan itu, masihkah Saudara berharap? Perempuan ini bergeming dengan keyakinannya bahwa Yesus pasti mengasihinya. Ia tidak tersinggung, tidak mundur, melainkan tetap berharap. Inilah iman yang rendah hati. (Wasiat)

DOA: Ya Tuhan, kami sadar bahwa sikap rendah hati itu sulit terbentuk, oleh karenanya kami memohon kepada-Mu, ubahlah hati kami agar lembut dan rendah hati. Amin.

Share this Post